KHUTBAH I
**اللهُ أَكْبَرُ (9×) كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا****لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ**
Ma’asiral Muslimin Rahimakumullah,
Hari ini, langit bumi bergetar gempita membingkai asma Allah yang agung. Gema takbir rontok membasahi lisan kita, memecah keheningan fajar, dan mengetuk pintu-pintu hati yang sempat membatu. Hari ini kita berkumpul bukan sekadar untuk merayakan ritual tahunan, bukan pula sekadar menyaksikan darah hewan kurban yang tumpah membasahi bumi. Hari ini adalah cermin raksasa. Sebuah momentum emas di mana kita diundang oleh Allah SWT untuk menengok ke dalam palung jiwa kita yang paling dalam.
*Jamaah Idul Adha yang Dirahmati Allah,
Mari kita bawa ingatan kita terbang melintasi ruang dan waktu, menuju sebuah lembah gersang di Mina ribuan tahun silam. Di sana, berdiri seorang ayah bernama Ibrahim AS, dan seorang anak belia bernama Ismail AS. Sebuah drama cinta teragung dalam sejarah umat manusia sedang dipentaskan. Ketika perintah sembelih itu datang dari langit melalui mimpi, ego Ibrahim sebagai seorang ayah yang merindukan anak selama puluhan tahun seolah diuji di titik nadir. Namun, apa yang terjadi? Ibrahim tidak memeluk egonya. Ismail pun tidak memanjakan jiwanya. Allah SWT mengabadikan dialog suci ini dalam Al-Qur'an, Surah As-Saffat ayat 102:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!' Dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'"
**Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Renungkanlah, wahai jiwa-jiwa yang merindukan surga! Pisau tajam yang berada di tangan Ibrahim hari itu sesungguhnya bukanlah alat pembunuh. Pisau itu adalah alat pemotong sifat keakuan. Pisau itu bertugas menyembelih keangkuhan, menyembelih rasa kepemilikan mutlak atas dunia, dan memotong ego yang sering kali merasa lebih tinggi dari titah Sang Khalik. Ibrahim menghujamkan pisau itu bukan karena benci pada anaknya, melainkan karena cintanya yang tenggelam dalam samudera rida Allah SWT. Dan ketika keikhlasan telah mencapai puncaknya, ketika ego telah lumat menjadi debu, Allah menggantinya dengan seekor domba yang besar.
Hari ini, hewan-hewan kurban telah berbaris. Pisau-pisau tajam telah diasah. Namun, ketahuilah, musuh terbesar yang harus kita rebahkan hari ini di atas altar penyembelihan bukanlah kambing, bukan pula sapi. Musuh itu ada di dalam dada kita sendiri ; Ego kita yang gemuk. Kita sering kali memelihara "hewan ternak" di dalam batin kita. Kita pelihara sifat sombong seperti singa, kita rawat sifat tamak seperti serigala, dan kita besarkan sifat egois yang menganggap diri paling benar. Maka, saat pisau kurban mengiris leher hewan di luar sana, pastikan mata pisau maknawi di dalam hati kita juga sedang memotong sifat keakuan kita!
**Ma’asiral Muslimin yang Berbahagia,
Ketahuilah, Allah tidak butuh pada dagingnya, Allah tidak haus pada darahnya. Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ
"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan mencapai (keridaan) Allah, tetapi yang mencapai (keridaan)-Nya adalah ketakwaan kamu."
Aduhai, alangkah malangnya kita, jika setelah Idul Adha berlalu, hewan kurban kita mati, namun ego kita tetap hidup subur. Alangkah ruginya kita jika darah kurban mengalir, namun air mata taubat kita kering kerontang. Rasulullah SAW memberikan peringatan keras dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah:
مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
"Barangsiapa yang memiliki kelapangan (harta) namun ia tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami."
Hadis ini adalah cambuk persuasif bagi kita semua. Rasulullah tidak sedang mengusir kita secara fisik, melainkan sedang mengetuk pintu nurani kita yang tertutup oleh gembok kekikiran. Harta yang kita dekap erat-erat hari ini, esok akan menjadi tanah. Namun, sekerat daging yang kita bagikan dengan ketulusan nurani, akan menjelma menjadi cahaya yang menerangi gelapnya liang kubur kita.
**Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd.
Mari kita hidupkan kembali nurani yang mungkin sempat mati suri akibat racun duniawi. Melalui ibadah kurban di tahun 1447 Hijriah ini, mari kita ketuk pintu rumah tetangga kita yang kekurangan. Mari kita basuh air mata yatim piatu dengan kehangatan berbagi. Mari kita runtuhkan sekat-sekat kesombongan status sosial. Ketika daging kurban itu dibagikan, tidak ada lagi si kaya dan si miskin yang berbeda kasta. Yang ada hanyalah sesama hamba Allah yang bersimpuh di bawah payung rahmat-Nya.
Mengakhiri khutbah ini, mari kita merenung sejenak: Jika Ibrahim AS mampu menyerahkan anak tunggal yang amat dicintainya, mengapakah kita masih berat menyisihkan sebagian kecil dari harta yang sejatinya adalah titipan-Nya?
Barakallahu lee wa lakum fil Qur'anil 'Azeem, wa nafa'ani wa iyyakum bima feehi minal ayati waz-zikril hakim. Aqoolu qawli haza wa astaghfirullahal 'Azeem lee wa lakum.
KHUTBAH II
اللهُ أَكْبَرُ (٧×) لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُاَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْمَصَابِيْحِ الْغُرَرِ.أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. الدُّعَاءُاَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا ضَحَايَانَا وَطَاعَاتِنَا كَمَا تَقَبَّلْتَ مِنْ خَلِيلِكَ إِبْرَاهِيمَ وَحَبِيبِكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْحَسَدِ وَالْأَنَانِيَّةِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِينَ التَّوَّابِينَ.اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْعِيدَ سَبَبًا لِتَأْلِيفِ قُلُوبِنَا، وَجَمْعِ كَلِمَتِنَا، وَرَفْعِ الْبَلَاءِ وَالْوَبَاءِ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا خَاصَّةً وَعَنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
**Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim...
Hari ini kami bersimpuh di hadapan-Mu, membawa sekeping hati yang penuh noda, namun merindukan ampunan-Mu. Kami akui ya Allah, sering kali ego kami lebih tinggi dari ketaatan kami kepada-Mu. Sering kali sifat keakuan kami membutakan mata nurani kami dari penderitaan sesama.
**Ya Ghaffar, Ya Tawwab...
Di hari Idul Adha ini, kami mohon, sembelihlah kesombongan dari batin kami. Cabutlah akar kekikiran dari dada kami. Jadikanlah setiap tetesan darah hewan kurban yang kami alirkan hari ini, menjadi penghapus dosa-dosa kami, menjadi pembasuh jiwa kami yang gersang, dan menjadi saksi penyelamat kami di hari perhitungan kelak.
**Ya Allah, Ya Razzaq...
Berkahilah harta kami, berkahilah keluarga kami. Titipkanlah di dalam hati kami jiwa sepasrah Ismail dan keteguhan seikhlas Ibrahim. Jangan biarkan dunia mencengkeram hati kami, melainkan jadikanlah dunia hanya berada di tangan kami untuk kami belanjakan di jalan-Mu.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
*) Sutrisno Akbar Attubany, S.PdI, M.Pd, Sekretaris Ranting NU Tambakrejo, Sekretaris LAZISNU MWCNU Krembung, Pengurus LTN PCNU Sidoarjo, Guru MIN 2 Pasuruan
0 Komentar